Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Najikh menyatakan bahwa Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) harus bisa belajar dari jaringan teroris. Artinya, komunitasnya tidak harus terlihat dan banyak kegiatan, namun memiliki efek dan dampak yang sangat luar biasa.

“JSM tidak dilembagakan bagaikan jaringan teroris, tidak berkantor, tapi dampaknya luar biasa. Wujudnya tidak terlihat,” ungkap Najikh di hadapan peserta Pengajian Super Akbar  bertema ‘Membangun Kemandirian Menyulam Harga Diri Menuju Jogja Berkemajuan’, di aula Masjid Islamic Centre Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Ahad (31/7).

Menurut Najikh, membangun ekonomi dan bisnis di Muhammadiyah bisa dilakukan melalui dua jalan; formal dan informal. Melalui jalur informal, salah satunya dengan dibentuknya Jaringan Saudagar Muhammadiyah. Para warga Muhammadiyah yang memiliki usaha diminta untuk bergabung dalam jaringan bisnis berbasis sharing economy ini. Dalam system ini, para anggota akan saling mendukung, berbagi ide dan jaringan untuk berkembang bersama. Najikh memiliki prinsip bahwa bisnis dibangun dengan ide bukan dengan modal.

Ouwner PT Kelola Mina Laut itu menyatakan bahwa ekonomi Muhammadiyah selama ini tidak bisa berkembang karena diserahkan pada yang bukan ahlinya. “Banyak diserahkan pada guru, dosen, dan bahkan politikus. Padahal mengelola ekonomi memiliki banyak conflict of interest,” katanya. Selain itu, sebut Najikh, kegagalan juga disebabkan oleh factor tidak mau belajar dan tidak melek teknologi informasi dan komunikasi. “Harus belajar dan menyesuaikan kebutuhan,” sarannya.

Di kepengurusan sekarang, MEK ingin melakukan terobosan melalui JSM. Para anggota JSM, sebut Najikh, terdiri dari beragam kalangan, mulai dari pengusaha Muhammadiyah yang sudah mapan hingga pengusaha yang baru memulai dan bergerak dalam sector Usaha Kecil Menengah (UKM). Beberapa di antaranya adalah Nurhayati Subakat (Pendiri dan pemilik Wardah Cosmetics), Muhammad Najikh (pengusaha ekspor hasil laut), Hery Zudianto (pengusaha dan mantan walikota Jogja), dan lain-lain.

MEK dan JSM memiliki visi untuk mensukseskan usaha dari para warga Muhammadiyah dan sekaligus unit bisnis institusi Muhammadiyah. Kedua-duanya berjalan dan berkembang bersama. Sukses dalam bisnis pribadi dan juga bisnis persyarikatan Muhammadiyah.

Najikh optimis bahwa keinginan Muhammadiyah menjadikan ekonomi sebagai pilar ketiga setelah pendidikan dan kesehatan akan bisa terwujud, asalkan para pemuda Muhammadiyah mampu mengambil momentum. “Ekonomi Indonesia saat ini digerakkan oleh anak-anak muda. Anak-anak muda Muhammadiyah harus ikut main,” ungkap pengusaha hasil laut yang sudah merambah ke empat benua dan bahan bakunya disokong oleh 600 UKM dan 125.000 nelayan itu.

Sumber : Suara Muhammadiyah